papua88
LIVEPAPUA88 mengulas noken Papua melalui tiga sisi yang saling terkait: serat yang menjadi bahan, kerja tangan dalam pembuatannya, dan kegunaan yang mencakup urusan sehari-hari hingga upacara. Noken dikenal sebagai tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan kepala, tetapi fungsinya tidak berhenti pada membawa barang.[1]
Serat kulit kayu menjadi bahan dasar
Noken dibuat dari serat kulit kayu. Bahan yang disebut dalam rujukan antara lain berasal dari pohon Manduam, pohon Nawa, dan anggrek hutan; jenis yang digunakan tidak terbatas pada ketiganya.[1]
Merangkai dimulai dari menyiapkan serat
Pembuatannya berlangsung secara manual, tanpa mesin. Kayu diolah dan dikeringkan, seratnya dipilah, lalu dipintal menjadi tali atau benang. Warna pada noken dapat berasal dari pewarna alami.[1]
Tahapan itu menunjukkan bahwa keterampilan membuat noken dimulai jauh sebelum bentuk tasnya selesai: bahan perlu disiapkan hingga menjadi serat yang dapat dipintal. Waktu pengerjaannya bisa mencapai satu hingga dua minggu; untuk noken berukuran besar, prosesnya dapat memakan sekitar tiga minggu hingga dua atau tiga bulan, bergantung pada prosesnya.[1]
Ukuran menyesuaikan kegunaan
Dalam pembagian ukuran yang dicatat, noken besar disebut Yatoo dan dapat digunakan untuk membawa kayu bakar, hasil panen, belanjaan, atau menggendong anak. Noken sedang disebut Gapagoo, sedangkan yang kecil disebut mitutee dan digunakan untuk membawa barang pribadi.[1]
Noken dipakai untuk membawa sayuran, umbi-umbian, dan barang dagangan ke pasar. Cara membawanya yang disebut dalam rujukan adalah dengan mengalungkan tali di bagian depan kepala, lalu membiarkan tas berada di punggung. Noken kecil juga digunakan untuk membawa buku dan keperluan belajar.[1]
Kegunaan sehari-hari bertemu tradisi
Di luar fungsi praktisnya, noken dapat menjadi hadiah kenang-kenangan bagi tamu dan digunakan dalam upacara. Peran-peran ini memperlihatkan bahwa benda yang sama dapat hadir dalam kegiatan harian sekaligus dalam hubungan sosial dan budaya.[1]
Makna noken juga beragam menurut komunitas. Rujukan mengaitkannya dengan simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan pada masyarakat seperti Amungme, Biak, dan Mee. Sebutan lokalnya pun berbeda: antara lain inoken atau inokenson pada masyarakat Biak, agiya pada masyarakat Mee, dan su pada masyarakat Dani Hubula.[1]
Dalam uraian yang dirujuk, kemampuan perempuan membuat noken dikaitkan dengan kedewasaan dan, dalam tradisi yang disebut, kesiapan untuk menikah. Keterangan ini menunjukkan bobot keterampilan tersebut dalam konteks budaya yang dibahas, tetapi tidak perlu dianggap sebagai aturan tunggal yang mewakili setiap komunitas Papua.[1]
Noken ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO pada 4 Desember 2012.[1] Dari serat kulit kayu yang dipintal hingga pemakaiannya untuk membawa kebutuhan, menjadi hadiah, dan hadir dalam upacara, noken mempertemukan kecakapan tangan dengan kehidupan budaya masyarakat Papua.[1]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Noken. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30015720&title=Noken (diakses 2026-10-03).